Damkarnews.com, BANJARBARU – Reses anggota DPRD Kota Banjarbaru tak selalu berakhir pada catatan aspirasi. Di Kampung Iwak, Mentaos, Jumat (28/8/2026) sore, reses Anggota Komisi II DPRD Kota Banjarbaru, Putra Qamaluddin Attar Nurriqoli, justru menjadi ruang bertemunya aspirasi warga dengan peluang pengembangan usaha.
Puluhan warga hadir dalam kegiatan tersebut. Berbeda dari reses pada umumnya, pria yang akrab disapa Bang Qamal itu menggandeng sejumlah organisasi kepemudaan dan kewirausahaan, di antaranya Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) dan Perkumpulan Penyelenggara Jasaboga Indonesia (PPJI).
Kolaborasi tersebut diarahkan untuk memberikan pembinaan sekaligus membuka akses bagi pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) agar mampu mengembangkan usahanya.
“Hari ini alhamdulillah ulun (saya) berada di Kampung Iwak mengadakan reses bersama warga. Menariknya, reses ini dibersamai oleh kawan-kawan dari HIPMI dan PPJI untuk berkolaborasi menjawab dan membina UMKM warga,” ujar Bang Qamal.
Menurutnya, menyerap aspirasi masyarakat tidak cukup hanya dengan mendengarkan keluhan dan mencatat usulan. Aspirasi yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi masyarakat juga perlu diupayakan melalui kolaborasi dengan berbagai pihak.
Hal itu sekaligus ditunjukkan dengan sejumlah dukungan yang sebelumnya telah terealisasi. Di antaranya bantuan peralatan memasak bagi pelaku usaha serta dukungan terhadap kelompok menjahit.

“Masyarakat di sini jangan berkecil hati. Perjuangan mereka ada bersama ulun dan kawan-kawan organisasi. Kinerja DPRD tidak harus bergerak sendiri, tetapi bisa menjadi perjuangan bersama kawan-kawan yang aktif mendorong ekonomi warga,” tegasnya.
Di sisi lain, warga juga menyampaikan sejumlah kebutuhan yang masih menjadi perhatian di lingkungan Kampung Iwak. Salah satunya berkaitan dengan infrastruktur jalan, termasuk usulan pengadaan paving block.
Warga juga mengusulkan dukungan sarana untuk kelompok keagamaan atau Habsyi yang ada di wilayah tersebut.
Seluruh aspirasi itu, kata Bang Qamal, akan dikawal dan diperjuangkan agar dapat masuk dalam agenda prioritas pembangunan Kota Banjarbaru sesuai dengan ketentuan dan kemampuan anggaran pemerintah daerah.
Ketua RT 01 RW 03 Kampung Iwak, Suyatno, menyambut baik pelaksanaan reses tersebut. Menurutnya, kehadiran anggota legislatif secara langsung di tengah masyarakat menjadi kesempatan bagi warga menyampaikan kebutuhan lingkungan secara terbuka.

“Kami mewakili warga menyambut baik kegiatan reses anggota dewan pada sore hari ini. Mudah-mudahan aspirasi masyarakat bisa disampaikan ke Pemerintah Kota Banjarbaru dan dapat dikabulkan,” ujar Suyatno.
Ia menyadari tidak seluruh usulan masyarakat dapat langsung direalisasikan. Berbagai kebijakan dan aturan pemerintah daerah menjadi bagian yang harus dipertimbangkan.
Namun, Suyatno tetap berharap aspirasi yang memungkinkan untuk diakomodasi dapat direalisasikan dan memberikan manfaat bagi warga.
“Ada sebagian aspirasi yang mungkin tidak bisa direalisasikan dan kita maklumi karena menyesuaikan kebijakan pemerintah. Namun, kami sangat berterima kasih atas pelaksanaan reses ini. Semoga semua berjalan baik, aman, dan damai,” tambahnya.
Kolaborasi dalam reses tersebut juga menjadi pintu masuk bagi HIPMI Banjarbaru untuk memperkenalkan program pendampingan usaha bagi pelaku UMKM lokal.
Ketua Bidang 3 Sumber Daya Manusia (SDM), Kehutanan, dan Lingkungan Hidup HIPMI Banjarbaru, Dika, mengatakan pihaknya tengah menggagas program inkubator bisnis yang berfokus pada pendampingan dan pelatihan.
Program tersebut ditujukan untuk membantu pelaku UMKM memperkuat fondasi usaha sehingga mampu berkembang dan naik kelas.
“Untuk kolaborasi HIPMI dengan pemerintah kota, itu melalui inkubator pendampingan usaha dan pelatihan. Bagi UMKM yang ingin mendapatkan pelatihan atau pendampingan, bisa langsung mendaftar di inkubator HIPMI yang kita gagas,” kata Dika.

Program tersebut ditargetkan mulai berjalan dalam waktu dekat, yakni akhir tahun ini atau awal tahun depan.
Pelatihan nantinya tidak hanya berbicara mengenai produk, tetapi juga kemampuan dasar yang dibutuhkan untuk menjaga keberlangsungan bisnis.
Beberapa materi yang akan diberikan antara lain manajemen keuangan, strategi pemasaran, serta kemitraan dan kolaborasi.
Melalui manajemen keuangan, pelaku usaha akan diarahkan memahami pengelolaan arus kas dan efisiensi biaya. Sementara strategi pemasaran diharapkan membantu UMKM memperluas jangkauan pasar.
Adapun aspek kemitraan membuka peluang pelaku UMKM untuk terhubung dengan sesama pengusaha maupun pelaku usaha yang telah lebih berpengalaman.
“Di HIPMI banyak pengusaha muda dan berpengalaman. Jadi, salah satu manfaatnya adalah para pelaku UMKM diharapkan bisa berkolaborasi langsung dengan para pengusaha yang sudah berpengalaman,” jelasnya.
Dika juga berpesan kepada pengusaha muda agar tidak mudah menyerah, terutama ketika baru memulai usaha.
Menurutnya, pelaku usaha pemula perlu menjaga efisiensi operasional dan menghindari pengeluaran yang belum diperlukan.
“Untuk yang baru mulai, ditahan-tahan dulu pengeluaran yang tidak perlu, operasional yang berlebihan, atau stok barang yang menumpuk. Jangan cepat menyerah, tetap semangat dan bertahan. Insya Allah bisa menjadi UMKM besar,” pungkasnya.
Reses di Kampung Iwak pun tidak sekadar menjadi agenda menyerap aspirasi. Pertemuan tersebut memperlihatkan bagaimana kebutuhan warga, dukungan legislatif, pemerintah, serta jejaring dunia usaha dapat dipertemukan untuk membuka peluang baru bagi masyarakat.
Bagi warga Mentaos, harapannya sederhana: aspirasi yang disampaikan tidak berhenti sebagai catatan, tetapi perlahan berubah menjadi program yang benar-benar dirasakan manfaatnya.





