Karhutla Kabupaten Banjar Tembus 6.200 Hektare, 937 Kejadian Tercatat

Bagikan

Damkarnews.com, BANJAR – Kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, semakin mengkhawatirkan. Hingga Senin (5/10/2026), luas lahan yang terbakar sejak pertengahan Juli telah mendekati 6.200 hektare, dengan total 937 kejadian Karhutla tercatat di berbagai wilayah.

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Banjar, Wasis Nugraha, mengatakan luasan tersebut merupakan akumulasi kejadian kebakaran yang terjadi sejak 15 Juli 2026 hingga saat ini.

“Hingga saat ini sudah mendekati 6.200 hektare lahan yang terbakar dengan total kejadian mencapai 937 titik kejadian kebakaran hutan dan lahan,” ujar Wasis saat ditemui, Senin (5/10/2026).

Menurut Wasis, kondisi Karhutla dalam beberapa hari terakhir justru menunjukkan peningkatan. Sejumlah wilayah kembali menjadi titik perhatian petugas, di antaranya Kecamatan Gambut, Sungai Tabuk, Kertak Hanyar, dan Martapura Barat.

Salah satu kebakaran cukup besar terjadi di kawasan Tembikar Kanan (Belayung) yang berbatasan dengan Desa Simpang Empat, Kecamatan Kertak Hanyar. Di lokasi tersebut, api membakar sekitar 42 hektare lahan.

Besarnya kobaran api membuat penanganan tidak cukup hanya mengandalkan tim darat. BPBD bersama satgas terkait harus mengerahkan dukungan pemadaman melalui udara atau water bombing.

“Kebakaran kemarin cukup besar sehingga memerlukan bantuan penanganan water bombing udara yang dikolaborasikan dengan satgas darat,” jelas Wasis.

Petugas juga berjibaku memadamkan kebakaran di kawasan Pematang KM 5, Kecamatan Gambut. Api di kawasan tersebut berlangsung cukup lama, mulai sore hari hingga sekitar pukul 01.00 dini hari.

Kondisi angin yang kencang serta medan kebakaran yang cukup luas menjadi tantangan tersendiri bagi petugas di lapangan.

“Di Pematang KM 5 Gambut juga berlangsung cukup lama dari sore hingga pukul 01.00 malam baru bisa dipadamkan karena angin kencang dan medan yang luas,” ungkapnya.

Di tengah tingginya kejadian Karhutla, Kabupaten Banjar juga menghadapi persoalan lain yang tak kalah serius, yakni kekeringan dan krisis air bersih.

BPBD Kabupaten Banjar mencatat sedikitnya 74 desa saat ini mengalami krisis air bersih dan membutuhkan suplai secara rutin.

Kondisi tersebut semakin berat karena permintaan air bersih dari masyarakat terus meningkat. Jika sebelumnya distribusi masih dapat dilakukan dua kali dalam sepekan, kini petugas harus menyesuaikan jadwal akibat banyaknya wilayah yang membutuhkan bantuan.

“Permintaan air bersih terus meningkat. Jika bulan lalu jadwal distribusi bisa dilakukan sepekan dua kali, kini menjadi 10 hari sekali karena banyaknya permintaan desa yang terdampak,” kata Wasis.

Wilayah yang mengalami dampak kekeringan cukup parah antara lain Kecamatan Aluh-Aluh, Beruntung Baru, serta sejumlah kawasan pesisir Kabupaten Banjar.

Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Banjar telah mendistribusikan sekitar 3 juta liter air bersih kepada masyarakat terdampak.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, BPBD mengoperasikan tiga unit truk tangki yang bekerja dari pagi hingga sore hari. Selain itu, sekitar 130 unit tandon air juga telah dipinjamkan dan ditempatkan di desa-desa yang mengalami krisis air.

BPBD Kabupaten Banjar juga berencana menambah armada truk tangki guna memperkuat pelayanan distribusi air bersih kepada masyarakat.

Di sisi lain, berdasarkan rilis BMKG yang disampaikan BPBD, potensi hujan diperkirakan mulai terjadi secara bertahap pada November mendatang. Namun, hingga hujan benar-benar turun secara merata, petugas masih harus menghadapi dua ancaman sekaligus: api yang terus melahap lahan dan kekeringan yang membatasi ketersediaan air bagi masyarakat.

Author: Damkarnews
Damkarnews