Damkarnews.com, BANJARBARU — Musibah kebakaran melanda sebuah permukiman di Jalan Gotong Royong Ujung, RT 04 RW 06, Kelurahan Mentaos, Kecamatan Banjarbaru Utara, Kota Banjarbaru, Rabu (16/9/2026).
Kobaran api dengan cepat membesar dan menghanguskan sebuah bangunan rumah warga. Tim gabungan pemadam kebakaran dan relawan dari Banjarbaru hingga Martapura pun bergerak cepat untuk menjinakkan api sekaligus mencegah kobaran merembet ke rumah-rumah di sekitarnya.
Wakil Ketua Emergency Mentaos Rescue (EMR), Rahmad Fadillah, mengatakan pihaknya langsung mengerahkan personel setelah menerima laporan adanya kebakaran.
“Dari Mentaos Rescue kurang lebih ada 6 sampai 7 personel yang turun ke lapangan, dibantu rekan-rekan gabungan PMK dan BPK dari Banjarbaru serta Martapura,” ujar Rahmad saat ditemui di lokasi.
Berdasarkan pendataan awal, api menghanguskan bangunan bedakan dua pintu hingga rusak total. Kobaran juga berdampak pada bagian dapur rumah warga yang berada di sekitar lokasi.
“Dua pintu bedakan mengalami rusak total. Selain itu ada juga satu bagian dapur rumah warga yang terkena imbas kobaran api,” jelasnya.
Proses pemadaman bukan tanpa kendala. Petugas dan relawan sempat kesulitan menjangkau sumber air yang berada di bagian belakang permukiman.
Akses menuju sumber air terhalang kobaran api yang masih cukup besar. Kondisi tersebut membuat relawan harus mengambil langkah cepat agar api tidak menjalar ke bangunan lain.
Tim kemudian melakukan blocking atau pemblokiran jalur api dengan fokus mengamankan rumah-rumah yang berada di sisi kanan, kiri, dan belakang bangunan yang terbakar.
“Kami langsung melakukan blocking untuk mengamankan bangunan di sisi kanan, kiri, dan belakang. Karena kondisi bangunan utama yang terbakar sudah sulit diselamatkan, fokus utama kami adalah mengamankan rumah-rumah warga sekitar yang belum tersambar api,” ungkap Rahmad.
Di balik keberhasilan petugas mencegah api meluas, tersimpan kisah pilu yang dialami pemilik rumah, Slamet Riyadi.
Saat kebakaran terjadi, Slamet sedang berada di luar rumah. Ia baru mengetahui musibah tersebut setelah mendapat telepon dari istrinya.
Sang istri menelepon dalam kondisi menangis. Di saat bersamaan, suara sirene armada pemadam kebakaran terdengar bersahut-sahutan.
” Istri saya menelepon sambil menangis. Saat itu saya mendengar suara sirine armada pemadam kebakaran bersahut-sahut. Perasaan saya langsung tidak enak dan curiga rumah sendiri yang terbakar,” tutur Slamet.
Tanpa berpikir panjang, Slamet langsung bergegas menuju rumah. Namun, ketika sampai di belokan jalan menuju kediamannya, dugaan buruk itu benar-benar terjadi.
Api yang membesar begitu cepat membuat Slamet dan keluarganya tak sempat menyelamatkan barang-barang berharga. Harta benda yang selama ini dikumpulkan pun ludes bersama bangunan tempat mereka tinggal.
Di tengah kepanikan saat kebakaran, sebuah telepon seluler milik keluarganya yang menyimpan sejumlah data penting diduga hilang diambil orang.
Yang membuat kehilangan itu semakin berat, di dalam HP tersebut tersimpan foto dokumen penting keluarga, termasuk KTP dan Kartu Keluarga (KK).
“Di dalam HP itu ada foto dokumen-dokumen penting seperti KTP dan KK. Sekarang semuanya hilang, tidak ada yang tersisa sama sekali,” ucap Slamet dengan nada lemas.
Kini, Slamet dan keluarganya harus menghadapi kenyataan pahit. Rumah tempat mereka berlindung telah rata dengan tanah, sementara sejumlah barang berharga dan data penting keluarga juga ikut hilang.
Di tengah puing-puing sisa kebakaran, mereka berharap mendapat perhatian dan bantuan dari pihak terkait untuk meringankan beban yang kini harus ditanggung keluarga tersebut.

