Damkarnews.com, BANJAR – Panjangnya antrean dan ketidakpastian waktu tunggu pasien di RSUD Ratu Zalecha kembali menjadi sorotan. Manajemen rumah sakit mengungkapkan bahwa rendahnya penggunaan sistem pendaftaran online menjadi akar persoalan yang hingga kini belum terpecahkan.
Direktur RSUD Ratu Zalecha, Arief Rachman, saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (14/4/2026) pagi, menyebutkan tingkat penggunaan pendaftaran online saat ini baru berkisar 30 hingga 40 persen. Angka tersebut dinilai belum cukup untuk mendukung sistem manajemen antrean yang efektif.
“Kalau hanya 30 persen yang online, itu tidak menggambarkan jumlah keseluruhan pasien. Kami jadi kesulitan mengatur jadwal pelayanan,” ujarnya.
Akibatnya, mayoritas pasien masih datang langsung pada hari pelayanan (go-show). Kondisi ini membuat antrean menumpuk sejak pagi, bahkan banyak pasien sudah hadir sejak subuh. Ironisnya, pelayanan dokter di poli kerap baru dimulai pukul 10.00 hingga 11.00 Wita.

Keterlambatan ini disebabkan oleh skala prioritas layanan medis. Dokter lebih dahulu menangani pasien di Instalasi Gawat Darurat (IGD), Stroke Center, serta melakukan visit ke pasien rawat inap sebelum membuka layanan poli.
Selain itu, keterbatasan tenaga medis juga memperparah kondisi. Poli dengan jumlah dokter terbatas, hanya satu atau dua orang, sering mengalami keterlambatan pelayanan. Sementara poli dengan sumber daya manusia yang lebih memadai, seperti penyakit dalam dan anak, relatif dapat memulai layanan lebih awal.
“Kalau SDM cukup, pelayanan bisa mulai jam 08.00 atau 08.30. Tapi kalau dokternya terbatas dan harus bagi waktu, pasti terlambat,” jelasnya.
Manajemen antrean yang belum optimal turut menjadi persoalan. Pasien yang mendaftar manual tidak memiliki kepastian jam pelayanan, sehingga terjadi penumpukan di ruang tunggu. Bahkan, tidak jarang pasien harus menunggu berjam-jam tanpa kejelasan.
Untuk mengatasi hal ini, pihak rumah sakit mendorong masyarakat beralih ke pendaftaran online minimal sehari sebelum kunjungan (H-1). Dengan sistem tersebut, pasien akan mendapatkan estimasi waktu kedatangan yang lebih teratur.

“Kalau online sudah tinggi, kami bisa atur. Misalnya nomor antrean 30 diminta datang jam 10 atau 11. Jadi tidak menumpuk,” ungkap Arief.
Tak hanya itu, rumah sakit juga mewacanakan penutupan pendaftaran manual di hari yang sama sebagai langkah tegas mendorong digitalisasi layanan. Pembatasan kuota pasien per hari juga akan diterapkan mengikuti standar BPJS, agar kualitas pelayanan lebih maksimal dan pasien mendapat waktu konsultasi yang cukup.
Di sisi lain, inovasi layanan juga mulai dikembangkan, salah satunya telemedicine. Layanan ini ditujukan bagi pasien dengan kondisi stabil atau hanya membutuhkan kontrol rutin, sehingga tidak perlu datang langsung ke rumah sakit.
Manajemen juga menargetkan waktu tunggu pasien dapat ditekan maksimal satu jam, seiring rencana penambahan tenaga medis, khususnya di poli dengan jumlah pasien tinggi seperti penyakit dalam dan saraf.

Menariknya, faktor lain yang turut memengaruhi panjangnya antrean adalah adanya “pasien fanatik” pada dokter tertentu, yang membuat antrean di poli tertentu lebih padat dibandingkan poli lainnya.
Meski masih menghadapi berbagai kendala, pihak rumah sakit mengklaim telah melakukan sejumlah pembenahan, termasuk memperluas ruang tunggu agar lebih nyaman. Namun, dampaknya area pendaftaran menjadi sedikit kurang ideal karena bergeser ke luar ruangan.
Ke depan, manajemen berharap perubahan pola masyarakat dalam menggunakan pendaftaran online menjadi kunci utama perbaikan sistem pelayanan.
“Kalau semua bisa terdata sejak awal, kami bisa atur jadwal dengan pasti. Target kami, pasien tidak perlu lagi menunggu lama tanpa kepastian,” pungkasnya.
Masyarakat dapat mengakses layanan pendaftaran online melalui WhatsApp SIPO RAZA di nomor 0823-5135-1297.*Srf








