Damkarnews.com, BANJAR – Kondisi memprihatinkan SDN Jawa Laut 1 di pusat Kota Martapura akhirnya memicu reaksi keras dari Komisi IV DPRD Kabupaten Banjar. Dipimpin Ketua Komisi IV Hj. Anna Rusiana, rombongan dewan turun langsung melakukan kunjungan, Sabtu (4/4/2026) pagi.
Kunjungan yang juga diikuti anggota Komisi IV Hj. Fitriyah ini mengungkap fakta mencengangkan: lantai sekolah yang sudah lapuk dilaporkan ambles di sejumlah titik. Bahkan, kondisi tersebut sempat memicu insiden yang menimpa guru dan murid.
Hj. Anna Rusiana menegaskan, kondisi ini sudah melewati batas toleransi dan membahayakan keselamatan.

“Teman-teman sudah melihat langsung, usia bangunan ini sudah tua dan secara teknis melampaui batas keselamatan bagi anak dan pendidik. Jangan lagi ada tambal sulam. Ini harus direvitalisasi total,” tegasnya di lokasi.
Ia menyoroti letak sekolah yang berada di kawasan perkotaan, tak jauh dari pusat pemerintahan Kabupaten Banjar.
Menurutnya, kondisi tersebut menjadi ironi besar bagi wajah pendidikan daerah.

“Ini di kota, dekat pusat pemerintahan. Masa kondisinya seperti ini? Bagaimana dengan sekolah di daerah terpencil? Ini harus jadi prioritas utama,” sindirnya.
Komisi IV DPRD juga memastikan akan segera memanggil Dinas Pendidikan dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) untuk menuntut data riil kondisi sekolah-sekolah rusak di Kabupaten Banjar.
“Kami butuh data konkret, baik sekolah rusak berat, sedang, termasuk yang terdampak banjir. Selama ini data itu belum kami terima. Ini penting untuk menentukan skala prioritas anggaran,” ujarnya.
Ia juga menyinggung banyaknya sekolah berstatus Inpres yang dibangun sejak era Presiden Soeharto dan kini dinilai sudah melewati usia teknis.
“Bangunan Inpres itu sudah sangat tua. Harus ada perhatian serius, terutama di wilayah kota. Jangan sampai ini terus dibiarkan,” tambahnya.
Meski diketahui usulan perbaikan SDN Jawa Laut 1 masuk dalam program 2027, DPRD berjanji akan mengawal agar bisa diprioritaskan lebih cepat melalui anggaran 2026.

“Kami akan pantau di pembahasan anggaran. Harapan kami, ini bisa jadi prioritas pertama. Ini menyangkut citra pendidikan dan keselamatan anak-anak,” tegas Anna.
Sementara itu, Kepala SDN Jawa Laut 1, Andrianci MH, mengaku sangat berharap perhatian pemerintah bisa segera diwujudkan tanpa harus menunggu tahun depan.
“Kami berharap tidak menunggu 2027. Tahun 2026 ini juga bisa direalisasikan. Supaya guru dan murid nyaman dan aman dalam belajar,” ungkapnya.
Ia menyebutkan, saat ini jumlah siswa di sekolah tersebut hanya 40 orang dari kelas 1 hingga kelas 6. Namun, menurutnya, minimnya jumlah siswa justru menjadi dampak dari kondisi fisik sekolah yang tidak layak.

“Kalau bangunannya bagus, fasilitas memadai, kami yakin minat masyarakat akan meningkat,” ujarnya.
Di sisi lain, Kepala Bidang Sarana dan Prasarana Dinas Pendidikan Kabupaten Banjar, Mahriansyah, membenarkan adanya kerusakan serius pada struktur lantai sekolah.
“Dari hasil pemeriksaan, memang ada kerusakan pada lantai. Ini dipengaruhi usia bangunan yang sudah lama dan material kayu yang lapuk,” jelasnya.
Ia menambahkan, banjir yang terjadi pada 2026 turut memperparah kondisi bangunan.
“Struktur kayu sangat terdampak banjir, sehingga mempercepat pelapukan dan membuat lantai rapuh,” katanya.
Mahriansyah mengungkapkan, pihaknya telah mengajukan perbaikan melalui tiga jalur sekaligus, yakni ke Kementerian Pendidikan melalui BPMP, program revitalisasi pusat, serta melalui BPBD untuk penanganan pascabencana.
Namun hingga kini, seluruh usulan tersebut masih menunggu tindak lanjut.
Untuk solusi jangka panjang, pihaknya menilai perlu dilakukan peninggian struktur bangunan guna mengantisipasi banjir berulang.
Adapun kebutuhan anggaran untuk revitalisasi total SDN Jawa Laut 1 diperkirakan mencapai Rp2,5 miliar hingga Rp2,7 miliar.
Lebih jauh, Mahriansyah mengungkapkan bahwa dampak banjir tidak hanya terjadi di satu sekolah. Berdasarkan data sementara, lebih dari 100 sekolah di sekitar 10 kecamatan di Kabupaten Banjar terdampak dengan tingkat kerusakan bervariasi.
“SDN Jawa Laut 1 ini termasuk yang butuh penanganan serius,” pungkasnya.*Srf








