Damkarnews.com, BANJAR – Bencana ekologis menimpa para pembudidaya ikan keramba di Desa Sungai Arfat, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar. Penurunan drastis debit air sungai menyebabkan jutaan ikan mati massal dalam beberapa hari terakhir. Sekitar 1.000 unit keramba milik warga dilaporkan terdampak, mengakibatkan kerugian yang diperkirakan mencapai miliaran rupiah.
Warga menduga kematian ikan dipicu tidak mengalirnya air sungai akibat pintu air bendungan di Kecamatan Karang Intan yang dalam kondisi tertutup, sehingga sirkulasi air terganggu.
Pambakal Desa Sungai Arfat, H. Normaliyansah, mengatakan fenomena tersebut mulai terjadi sejak Selasa (7/7/2026). Dalam waktu singkat, permukaan air sungai turun drastis hingga sekitar satu meter, membuat ikan di keramba kekurangan oksigen.
“Air sungai turun drastis kurang lebih sekitar satu meter. Kejadiannya sejak hari Selasa sampai hari ini. Total kematian ikan bisa dibilang hampir habis seluruh ikan milik masyarakat,” ujar Normaliyansah saat ditemui wartawan, Rabu (8/7/2026) sore.
Menurutnya, penurunan paling signifikan terjadi pada Selasa, ketika permukaan air turun sekitar 75 sentimeter hanya dalam waktu singkat. Kondisi tersebut membuat kualitas air memburuk dan memicu kematian ikan secara massal.
Normaliyansah menyebut peristiwa ini merupakan yang terparah sepanjang warga membudidayakan ikan keramba di Desa Sungai Arfat.

Biasanya, ketika terjadi penurunan debit air, laporan masyarakat segera ditindaklanjuti dengan upaya mengalirkan air agar sirkulasi tetap terjaga. Namun kali ini, penanganan dinilai lambat sehingga jumlah ikan yang mati terus bertambah.
“Masyarakat sudah melaporkan kondisi ini kepada saya selaku pambakal untuk diteruskan ke pihak kecamatan hingga Dinas Perikanan. Namun sampai sekarang belum ada tindakan nyata. Air terus surut dan ikan terus mati setiap hari,” katanya.
Para pembudidaya kini hanya bisa pasrah melihat hasil budidaya yang selama berbulan-bulan dipelihara musnah dalam hitungan hari.
“Harapan kami kepada pemerintah, tolong perhatikan masyarakat petani ikan ini. Keluhan kami hanya satu, masalah air. Tolong pihak terkait supaya air ini bisa kembali mengalir,” harap Normaliyansah.
Sebelum kejadian ini, Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Banjar sebenarnya telah mengingatkan para pembudidaya ikan keramba agar mewaspadai dampak musim kemarau.
Hasil pemantauan kualitas air di sejumlah sentra budidaya, termasuk Desa Sungai Arfat dan Desa Mali-Mali, menunjukkan penurunan kadar oksigen terlarut (Dissolved Oxygen/DO) hingga berada di bawah ambang ideal bagi kehidupan ikan.
Kepala DKPP Kabupaten Banjar, Sipliansyah Hartani, melalui Kepala Bidang Perikanan Budidaya, Bandi Chairullah, menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan sebagai langkah antisipasi terhadap dampak kemarau.
Di kawasan hilir Desa Sungai Arfat, kadar oksigen terlarut hanya tercatat sekitar 1 mg/liter dengan suhu air mencapai 29,7 derajat Celsius, pH 6, serta kedalaman sungai berkisar 1,5 hingga 3 meter.
Sementara di Desa Mali-Mali, kondisi dinilai lebih mengkhawatirkan. Kadar oksigen hanya berkisar 0,61 hingga 1,3 mg/liter, dengan kedalaman sungai tinggal 1 hingga 2,5 meter. Permukaan air bahkan telah turun sekitar dua meter dari kondisi normal.
“Jika kadar oksigen terus menurun dalam waktu yang lama, ikan akan mengalami stres, sulit bernapas, bahkan berpotensi mati massal,” ujar Bandi.
Ia mengungkapkan, sejak Mei hingga Juni 2026, DKPP telah melakukan sosialisasi kepada para pembudidaya agar mempercepat jadwal panen dan mengurangi kepadatan tebar benih untuk mengurangi risiko kerugian.
“Sejak Mei sampai Juni kami sudah mengingatkan para pembudidaya agar mewaspadai perubahan iklim yang memasuki musim kemarau. Kami mengimbau mereka mengatur jadwal panen lebih awal dan tidak menebar ikan terlalu padat agar risiko kerugian bisa diminimalkan,” jelasnya.


