Damkarnews.com, BANJAR – Kerusakan pada salah satu mesin ATM Bank BRI di Jalan Sekumpul, Kelurahan Jawa, Kecamatan Martapura, Kabupaten Banjar, sempat mengundang perhatian warga, Rabu (5/8/2026) sore. Laporan masyarakat mengenai kondisi mesin yang diduga dirusak orang tak bertanggung jawab membuat pihak kepolisian bersama Tim Inafis mendatangi lokasi untuk melakukan pemeriksaan.
Tak lama setelah polisi tiba, pihak Bank BRI bersama vendor penyedia jasa perawatan ATM juga datang untuk melakukan pengecekan. Dari hasil pemeriksaan, petugas kepolisian menyarankan agar unit ATM tersebut segera diganti dengan mesin yang baru demi mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan.
ATM yang berada tepat di seberang Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banjar itu mengalami kerusakan pada bagian samping tombol dan area tempat memasukkan kartu ATM.
Seorang warga setempat yang enggan disebutkan namanya mengaku kerusakan pada mesin tersebut sebenarnya sudah berlangsung lebih dari satu bulan. Meski demikian, menurutnya ATM tersebut masih dapat digunakan untuk bertransaksi.
“Saya pernah menyampaikan kepada petugas yang mengisi uang di ATM itu kalau ada bagian yang rusak. Waktu itu petugas mengatakan mesin masih bisa digunakan, dan memang sampai sekarang masih bisa dipakai,” ujarnya.

Belakangan, kondisi fisik mesin ATM yang tampak jebol menjadi perbincangan masyarakat. Menanggapi hal tersebut, Vendor ATM Bank BRI, M. Rezian Abqoriy, menjelaskan bahwa kerusakan bukan semata-mata disebabkan tindakan vandalisme, tetapi juga dipengaruhi usia mesin yang sudah cukup tua.
“Ini kan mesin lama. Yang kedua, bahan cover mesin memang relatif ringkih. Kadang tidak kuat menahan tekanan dari tombol yang dipencet terlalu keras sehingga akhirnya jebol,” jelas Rezian saat ditemui di lokasi.
Selain faktor usia dan material mesin, perilaku sebagian pengguna juga disebut turut mempercepat kerusakan. Menurut Rezian, masih ada nasabah yang memaksakan memasukkan kartu ATM yang sebenarnya sudah tidak layak digunakan.
Akibatnya, kartu dapat tertelan mesin dan memicu emosi pengguna hingga berujung pada tindakan memukul atau merusak bagian ATM.
“Faktor berikutnya, ada kartu nasabah yang sebenarnya sudah tidak layak digunakan tapi tetap dipaksakan masuk. Akhirnya tertelan, dan itu bisa memancing emosi nasabah hingga melakukan aksi vandalisme,” katanya.

Menanggapi keluhan warga yang menyebut kerusakan telah berlangsung cukup lama, Rezian menjelaskan bahwa pihak vendor mengalami kendala dalam pengadaan suku cadang. Pasalnya, pabrikan sudah tidak lagi memproduksi sparepart untuk tipe mesin ATM tersebut.
Meski begitu, pihaknya mengaku telah beberapa kali melakukan perbaikan sementara pada bagian cover yang pecah.
“Kemarin sempat kami perbaiki sementara untuk cover-nya. Awalnya masih normal dan bisa digunakan, mesin juga tidak ada laporan gangguan dari nasabah. Tiba-tiba pecah lagi, kami juga tidak mengetahui pasti penyebabnya,” ungkapnya.
Vendor memastikan akan terus memantau kondisi mesin tersebut dan berkoordinasi dengan pihak terkait untuk melakukan penanganan lanjutan. Langkah itu dilakukan agar keamanan dan kenyamanan transaksi nasabah tetap terjaga


