Dari Pengguna Jadi Kreator, Aisyiyah Banjar Dorong Anak Muda Difabel Kuasai Dunia Digital

Bagikan

Damkarnews.com, BANJAR – Media sosial tak lagi sekadar menjadi tempat berbagi aktivitas sehari-hari. Di tangan yang tepat, ruang digital bisa berkembang menjadi wadah berkarya sekaligus membuka peluang ekonomi. Peluang inilah yang coba dibangun Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kabupaten Banjar bagi anak muda penyandang disabilitas.

Melalui Program Inklusi, PDA Kabupaten Banjar menggelar Pelatihan Content Creator bagi Anak Muda Difabel di Aula Lembaga Kesejahteraan Sosial Anak (LKSA) Panti Asuhan Puteri Muhammadiyah Martapura, Sabtu (19/9/2026) pagi.

Belasan peserta dari berbagai kelompok usia mengikuti pelatihan tersebut. Mereka mendapatkan pembekalan mengenai dasar-dasar menjadi content creator, mulai dari menggali potensi diri, menentukan ide, mengambil gambar hingga membuat video menggunakan smartphone.

Kegiatan ini menjadi salah satu langkah Aisyiyah untuk membuka alternatif pemberdayaan bagi penyandang disabilitas di tengah tantangan memasuki dunia kerja formal.

Koordinator Tim Inklusi Pimpinan Aisyiyah Banjar, Naimah, mengatakan keterbatasan akses terhadap lapangan kerja membuat penyandang disabilitas membutuhkan ruang lain untuk mengembangkan kemampuan.

Menurutnya, tidak semua perusahaan memiliki kesempatan kerja yang sesuai dengan ragam disabilitas. Kondisi tersebut mendorong pihaknya mencari pola pemberdayaan yang lebih fleksibel dan dapat disesuaikan dengan minat peserta.

“Tujuannya untuk memberdayakan disabilitas, khususnya anak muda. Karena bagi mereka, untuk masuk ke dunia kerja formal itu syaratnya cukup berat,” jelas Naimah.

Ia menyebut ragam disabilitas yang dimiliki seseorang juga menjadi salah satu tantangan ketika hendak memasuki dunia kerja. Karena itu, pihaknya memilih pendekatan melalui pengembangan minat dan bakat.

“Kami berdayakan minat dan bakat mereka melalui pelatihan hingga magang,” katanya.

Menariknya, sebagian peserta sebenarnya sudah tidak asing dengan dunia media sosial. Mereka bahkan telah memiliki akun dan terbiasa mengakses berbagai platform, termasuk TikTok.

Namun, penggunaan media sosial tersebut dinilai masih dapat dikembangkan agar tidak berhenti sebagai aktivitas konsumsi hiburan.

“Mereka ini sebenarnya sudah mulai mengakses media sosial dan punya akun TikTok. Tapi kualitas kontennya belum terarah. Lewat pelatihan ini, kami salurkan potensi mereka agar bisa berkembang menjadi pembuat konten yang profesional,” ujar Naimah.

Menurutnya, dunia digital memberikan ruang yang relatif luas bagi siapa pun untuk menunjukkan kemampuan. Kondisi fisik bukan satu-satunya ukuran seseorang dapat menghasilkan karya.

Karena itu, ia berharap peserta dapat memanfaatkan keterampilan tersebut sebagai modal untuk membangun kemampuan sekaligus membuka kemungkinan memperoleh penghasilan dari dunia kreatif digital.

Namun, kemampuan membuat konten menurut Naimah harus dibarengi dengan tanggung jawab dalam bermedia sosial.

Peserta diingatkan agar memahami etika, menjaga moral serta tidak menggunakan kemampuan digital untuk menyebarkan informasi palsu maupun konten manipulatif.

“Harapan kami, peserta bisa mempraktikkan ilmu yang dipelajari, terus berlatih, dan yang paling penting tetap beretika dan bermoral. Jangan sampai terjebak hal-hal manipulatif atau menyebarkan hoaks,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua PDA Kabupaten Banjar, Hj. Nadiyah MH, menilai perkembangan teknologi digital telah menciptakan ruang baru bagi masyarakat untuk menyampaikan gagasan dan menunjukkan karya.

Menurutnya, keberadaan media sosial memungkinkan cerita seseorang menjangkau masyarakat luas tanpa dibatasi ruang dan jarak.

“Dunia digital hari ini adalah dunia yang tanpa batas. Di ruang digital, suara, karya dan cerita kita memiliki kekuatan yang sama untuk didengar oleh jutaan orang lewat sebuah konten, baik itu berupa tulisan, video, foto maupun podcast,” ujarnya.

Ia menegaskan, konten digital bukan hanya berkaitan dengan hiburan. Jika dimanfaatkan secara positif, media sosial dapat menjadi sarana edukasi, inspirasi sekaligus membantu mengubah pandangan masyarakat terhadap penyandang disabilitas.

Aisyiyah, kata Nadiyah, ingin memastikan ruang tersebut dapat dimanfaatkan semua kalangan.

“Kami percaya bahwa keterbatasan fisik atau sensorik bukanlah penghalang untuk menjadi produktif, kreatif dan berdaya,” tegasnya.

Ia pun meminta para peserta tidak menjadikan kondisi disabilitas sebagai alasan untuk berhenti mengembangkan potensi.

“Para peserta hari ini, kalian anak muda difabel. Kalian punya potensi luar biasa dan inspirasi yang sangat ditunggu oleh dunia luar,” katanya.

Peserta kemudian mendapatkan materi dari Yayasan Hasnur Center Banjarmasin. Narasumber Ani Nuraini mengatakan materi sengaja diberikan dari tingkat dasar agar dapat dipahami peserta dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam.

Pelatihan mencakup pengenalan profesi content creator, pemetaan minat dan potensi diri, teknik dasar fotografi serta videografi menggunakan smartphone.

“Materi yang diberikan berkaitan dengan dasar-dasar menjadi content creator, cara mengenali minat dan potensi setiap individu, hingga teknik pengambilan foto dan video yang baik hanya dengan menggunakan smartphone,” jelas Ani.

Tidak berhenti pada teori, peserta juga dikenalkan dengan teknik storytelling. Mereka diarahkan agar mampu membuat konten yang bukan hanya menarik secara visual, tetapi juga mempunyai cerita dan pesan yang kuat.

Pelatihan berlangsung secara praktik. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok dan diminta membuat karya secara langsung berdasarkan materi yang telah diberikan.

Dari praktik tersebut, masing-masing kelompok berhasil menghasilkan satu karya video.

Ani menilai setiap peserta memiliki keunikan dan perspektif berbeda yang justru dapat menjadi kekuatan dalam membuat konten.

“Mereka memiliki keunikan masing-masing. Poin utamanya adalah jika mereka konsisten, maka peluang di dunia content creation ini sangat bisa dicapai dan diraih,” ujarnya.

Pelatihan juga melibatkan peserta teman tuli. Dalam prosesnya, komunikasi dibantu fasilitator sehingga materi tetap dapat diterima dan diikuti peserta secara optimal.

Bagi Ani, keterlibatan peserta dengan beragam kondisi tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran keterampilan digital dapat dilakukan secara inklusif dengan dukungan yang sesuai.

Ia berharap keterampilan yang diperoleh tidak berhenti ketika pelatihan berakhir. Peserta didorong untuk terus membuat karya, mengeksplorasi kemampuan dan mempraktikkan ilmu yang didapat melalui aktivitas sehari-hari.

“Kegiatan ini sejalan dengan fokus Yayasan Hasnur Center dalam membangun sumber daya manusia. Kami sangat senang dapat bekerja sama dengan Aisyiyah Muhammadiyah Martapura untuk mewujudkan program ini,” pungkasnya.

Melalui program tersebut, PDA Kabupaten Banjar tidak hanya ingin memperkenalkan teknik membuat video atau mengelola media sosial. Lebih jauh, pelatihan diarahkan untuk membuka ruang aktualisasi dan peluang pemberdayaan ekonomi bagi penyandang disabilitas.

Harapannya, anak muda difabel ke depan tidak hanya menjadi penonton atau pengguna media sosial, tetapi mampu berdiri sebagai kreator yang memiliki karya, suara dan kesempatan yang sama untuk mengambil peran di ruang digital.

Author: Damkarnews
Damkarnews