Kasus Malaria Impor Naik, Dinkes Banjar Minta Warga Lebih Waspada

Bagikan

Damkarnews.com, BANJARBARU – Meski telah dinyatakan bebas malaria sejak 2022, Kabupaten Banjar masih menghadapi tantangan serius berupa kasus malaria impor. Hal ini menjadi sorotan dalam peringatan Hari Malaria Sedunia yang digelar Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar melalui pertemuan dan koordinasi lintas sektor, Senin (27/4/2026) di Hotel Rodita Banjarbaru.

Kegiatan tersebut dibuka oleh Asisten Administrasi Umum, Dian Marliana, dan dihadiri berbagai unsur, mulai dari camat hingga pembakal (kepala desa), sebagai upaya memperkuat kewaspadaan di tingkat wilayah.

Plt Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Banjar, Noripansyah, menegaskan bahwa meskipun daerahnya telah meraih status eliminasi malaria, potensi penularan tetap ada akibat mobilitas masyarakat dari daerah endemik.

“Secara lokal kita sudah eliminasi malaria sejak 2022, bahkan sudah mendapat penghargaan. Namun, kasus yang muncul sekarang sebagian besar adalah kasus impor, yakni tertular di luar daerah lalu dibawa ke Kabupaten Banjar,” ujarnya.

Ia mengungkapkan, pada tahun 2025 tercatat sekitar 30 kasus malaria impor. Sementara pada triwulan pertama 2026 saja, jumlahnya sudah mencapai 24 kasus.

Kasus-kasus tersebut umumnya berasal dari warga yang bekerja di daerah endemik seperti wilayah pertambangan atau kawasan hutan di luar Kabupaten Banjar.

Menurut Noripansyah, langkah utama yang dilakukan pemerintah daerah adalah memutus rantai penularan melalui deteksi dini dan pengobatan tuntas.

“Kita tidak bisa membatasi mobilitas warga, tapi kita bisa mencegah penularan. Caranya dengan meningkatkan kesadaran masyarakat agar segera berobat.

Pengobatan malaria di puskesmas itu gratis dan bisa sembuh jika ditangani dengan baik,” jelasnya.

Ia juga mengimbau aparatur desa dan kecamatan untuk lebih proaktif dalam memantau kondisi warganya, terutama bagi mereka yang baru kembali dari daerah berisiko tinggi.

Terkait gejala, Noripansyah menjelaskan bahwa malaria kerap sulit dibedakan dengan penyakit lain seperti demam berdarah (DBD) atau tipes. Namun, ciri khas malaria adalah demam yang disertai rasa dingin atau menggigil, terutama pada sore hingga malam hari.

“Kalau demam lebih dari tiga hari, sebaiknya segera periksa ke fasilitas kesehatan untuk memastikan diagnosis melalui pemeriksaan laboratorium,” tegasnya.

Selain itu, masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap gigitan nyamuk, khususnya pada malam hari. Nyamuk penyebab malaria, yaitu Anopheles, lebih aktif dari pukul 18.00 hingga 06.00 Wita, berbeda dengan nyamuk penyebab DBD yang aktif di pagi hingga sore hari.

Melalui momentum Hari Malaria Sedunia, Dinas Kesehatan berharap kesadaran masyarakat semakin meningkat, sehingga Kabupaten Banjar tidak hanya mempertahankan status eliminasi, tetapi juga benar-benar bebas dari ancaman malaria di masa mendatang.*Asy

Author: Damkarnews
Damkarnews