Damkarnews.com, INTERNASIONAL – Di balik jutaan tayangan dan ribuan komentar warganet, kisah seekor bayi monyet makaka Jepang bernama Punch menyimpan cerita tentang perjuangan, adaptasi, dan proses belajar menjadi bagian dari komunitasnya sendiri.
Punch lahir pada Juli 2025 di Kebun Binatang Ichikawa, Chiba, Jepang. Sejak awal kehidupannya, ia menghadapi kenyataan pahit: ditinggalkan oleh induknya yang merupakan induk baru dan diduga belum berpengalaman. Situasi itu diperparah dengan kondisi gelombang panas yang melanda saat kelahirannya, menciptakan lingkungan penuh tekanan.
Tanpa induk untuk bergantung, Punch tumbuh dalam asuhan para penjaga kebun binatang. Untuk menggantikan kebutuhan alaminya berpegangan pada tubuh induk, staf memperkenalkan boneka orangutan setelah berbagai upaya lain termasuk menggulung handuk dengan ketebalan berbeda tidak berhasil.
“Bayi kera Jepang biasanya harus menempel pada tubuh induknya setelah lahir untuk membangun kekuatan otot dan rasa aman. Karena ditinggalkan, Punch tidak memiliki apa pun,” ujar penjaga kebun binatang, Kosuke Shikano.
Boneka itu bukan sekadar mainan. Bagi Punch, benda tersebut menjadi “figur keterikatan” yang memberinya rasa nyaman. Alison Behie, ahli primatologi dari Australian National University, menjelaskan bahwa pada usia enam bulan, Punch kemungkinan masih membutuhkan kedekatan fisik seperti saat menyusui.
Video-video yang beredar sempat memicu kekhawatiran publik. Punch terlihat beberapa kali diseret, dikejar, bahkan diputar-putar oleh monyet yang lebih besar sebelum akhirnya bersembunyi di balik batu sambil memeluk bonekanya erat-erat.
Namun menurut Behie, perilaku tersebut bukanlah perundungan, melainkan bagian dari dinamika sosial makaka Jepang yang memiliki hierarki matrilineal ketat. Dalam struktur itu, keluarga dengan peringkat lebih tinggi menegaskan dominasi atas yang lebih rendah.
“Bahkan jika bersama induknya, Punch tetap mungkin menghadapi agresi seperti itu,” jelasnya. Tantangannya adalah, tanpa ibu, Punch berisiko tidak mempelajari respons subordinasi yang tepat—keterampilan penting untuk bertahan dalam kelompok.
Meski demikian, perkembangan terbaru membawa kabar menggembirakan.
Kebun Binatang Ichikawa melaporkan bahwa Punch mulai menunjukkan tanda-tanda kemandirian. Pada waktu makan, ia kini turun dari kaki penjaga dengan sendirinya dan makan bersama monyet lain—sesuatu yang sebelumnya tidak pernah ia lakukan.
Detail kecil itu dinilai penting. Selama lima bulan pertama, Punch sangat bergantung pada para penjaga dan kerap mencari kenyamanan dengan berpegangan pada mereka saat makan. Kini, ia mulai melepaskan diri.
Dalam video terbaru yang diunggah pengunjung, Punch juga terlihat mengamati monyet lain melakukan grooming membersihkan bulu sesamanya lalu mencoba menirukan perilaku tersebut. Grooming merupakan fondasi penting dalam membangun ikatan sosial di antara makaka.
“Dia terus menunjukkan perkembangan yang baik!” tulis pihak kebun binatang melalui akun X resminya.
Di sisi lain, kisah Punch juga memantik diskusi lebih luas. Carla Litchfield, psikolog konservasi dari Universitas Adelaide, menilai cerita ini mencerminkan dampak perubahan iklim, tekanan habitat, hingga kesejahteraan hewan di kebun binatang.
Ia juga mengingatkan agar viralnya Punch tidak memicu tren berbahaya, seperti perdagangan ilegal bayi monyet untuk hewan peliharaan eksotis.
“Monyet memang terlihat lucu saat kecil, tetapi mereka tumbuh cepat dan merupakan makhluk sosial yang harus hidup bersama spesiesnya sendiri,” ujarnya.
Lonjakan pengunjung yang ingin melihat Punch secara langsung membuat kebun binatang memberlakukan pembatasan ketat, bahkan sempat menutup sementara area tersebut pada 24 Februari.
Kini, perhatian dunia tak lagi hanya tertuju pada kesedihan Punch saat memeluk boneka orangutan, melainkan pada langkah-langkah kecilnya menuju kemandirian. Dari bayi yang kesepian, Punch perlahan belajar menjadi makaka di antara makaka lainnya sebuah perjalanan sunyi yang justru mengajarkan arti bertahan dan beradaptasi.




