Damkarnews.com, BANJAR – Air bah yang merendam Desa Dalam Pagar, Kecamatan Martapura Timur, Kabupaten Banjar, seolah tak mampu memadamkan cahaya iman warga setempat. Di tengah genangan banjir yang masih setinggi lutut orang dewasa, langkah kaki mereka tetap tertuju ke satu arah: Masjid Tuhfaturroghibin Dalam Pagar. Dengan hati yang mantap, warga menunaikan ibadah sholat Jumat, Jumat (9/1/2026), meski harus berjuang menembus keterbatasan.
Banjir yang mengepung permukiman memaksa warga meninggalkan cara-cara biasa. Jalan yang dulu dilalui kini berubah menjadi hamparan air. Namun, keinginan untuk beribadah lebih kuat dari rasa lelah dan khawatir. Dengan penuh kehati-hatian, satu per satu jamaah menggunakan perahu milik relawan Barisan Pemadam Kebakaran (BPK) Martapura. Perahu sederhana itu telah menjadi satu-satunya harapan bagi warga yang terisolir sejak banjir melanda.
“Perahu ini sudah kami taruh di sini sejak Rabu (6/1/2026), supaya bisa dipakai warga yang terisolasi akibat banjir,” tutur relawan BPK Martapura yang akrab disapa Galau, dengan suara lirih penuh keikhlasan, saat dihubungi melalui sambungan telepon WhatsApp, Jumat malam.
Bagi Galau, perahu itu bukan sekadar alat. Ia menjadi penghubung antara keterbatasan dan harapan. Setiap hari perahu tersebut digunakan warga untuk memenuhi kebutuhan hidup, dan pada hari Jumat, menjadi jalan bagi para jamaah menuju rumah ibadah.
“Alhamdulillah, perahu ini sangat bermanfaat. Apalagi hari ini bisa mengantar warga untuk melaksanakan sholat Jumat,” ujarnya, dengan rasa syukur yang mendalam.
Di tengah derasnya air dan beratnya cobaan, kepedulian tumbuh tanpa pamrih. Galau mengaku hatinya tergerak untuk meminjamkan perahu miliknya demi membantu sesama yang tengah diuji musibah banjir di Kabupaten Banjar, termasuk warga Desa Dalam Pagar. Ia tak kuasa menutup mata melihat warga harus berjuang sendirian.
Harapan pun terus dipanjatkan. Ia berharap banjir yang melanda segera surut, agar kehidupan warga kembali berjalan normal.
“Mudah-mudahan banjir ini cepat berlalu, supaya warga bisa beraktivitas seperti biasa,” tutupnya dengan penuh doa.
Kisah dari Desa Dalam Pagar ini menjadi cermin keteguhan iman dan kehangatan gotong royong. Di tengah bencana yang merendam jalan dan rumah, keikhlasan dan kepedulian justru mengalir semakin dalam. Banjir boleh menutup akses, namun tak pernah mampu menenggelamkan iman, harapan, dan kemanusiaan.*Srf





