Damkarnews.com, BANJAR – Sampah yang selama ini dianggap masalah, kini justru menjadi “komoditas” penting. Pemerintah Kabupaten Banjar pun tak ingin sekadar jadi penonton, tetapi mengambil peran strategis dalam proyek Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL) di Kota Banjarmasin.
Sebagai daerah penyangga, Banjar diminta meningkatkan pasokan sampah hingga 100 ton per hari. Kenaikan ini bukan tanpa alasan, melainkan untuk menutup kekurangan bahan baku yang masih menjadi kendala utama operasional PSEL.
Sekretaris Daerah Kabupaten Banjar, Yudi Andrea, menyebut pihaknya siap memenuhi permintaan tersebut. Bahkan, Banjar dinilai memiliki posisi kuat karena produksi sampah hariannya mencapai hampir 400 ton.
“Dari sisi kapasitas kita mampu. Ini juga kesempatan bagi kita untuk mengoptimalkan pengelolaan sampah di daerah,” ujarnya, Sabtu (11/4/2026).
Awalnya, dalam kesepakatan kerja sama lintas daerah antara Pemkab Banjar, Pemko Banjarmasin, dan Pemkab Barito Kuala, suplai Banjar hanya dipatok sekitar 60 ton per hari. Namun, evaluasi terbaru dari Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Banjarmasin menunjukkan angka tersebut belum mencukupi.
Kondisi ini membuat Banjar didorong meningkatkan kontribusinya, sekaligus memperkuat perannya sebagai salah satu pemasok utama dalam skema regional tersebut.
Menariknya, langkah ini tidak hanya berdampak bagi Banjarmasin. Bagi Banjar sendiri, peningkatan distribusi sampah justru bisa menjadi solusi untuk mengurangi beban Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang selama ini terus tertekan.
“Ini saling menguntungkan. Kita terbantu dalam pengelolaan sampah, sementara PSEL juga bisa berjalan optimal,” tambah Yudi.
Di tingkat provinsi, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kalimantan Selatan, Rahmat Prapto Udoyo, menegaskan bahwa proyek PSEL memang dirancang sebagai gerakan bersama lintas daerah.
Pasalnya, untuk bisa beroperasi maksimal, fasilitas tersebut membutuhkan sedikitnya 700 ton sampah per hari. Angka itu jelas tidak bisa dipenuhi satu daerah saja.
“Ini bagian dari program nasional. Sampah tidak hanya ditangani, tapi juga dimanfaatkan menjadi energi listrik,” jelas Rahmat.
Ia menambahkan, Kota Banjarmasin dipilih sebagai lokasi proyek karena dinilai memenuhi aspek teknis dan ekonomis. Namun, keberhasilan program ini tetap bergantung pada konsistensi pasokan dari daerah sekitar.
Selain itu, proyek ini juga melibatkan PT PLN (Persero) dalam pengelolaan energi listrik yang dihasilkan, sehingga diharapkan benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat.
Saat ini, proyek PSEL masih berada pada tahap perencanaan dan kajian teknologi. Pemerintah provinsi pun terus memantau perkembangan, termasuk kesiapan daerah dalam hal suplai, sistem angkut, hingga pemilahan sampah.
Dengan komitmen yang mulai terbangun, peran Banjar kini tak lagi sekadar “pengirim sampah”. Daerah ini perlahan menjadi bagian penting dalam rantai besar pengolahan sampah modern—yang bukan hanya mengurangi persoalan lingkungan, tetapi juga membuka jalan menuju energi bersih di Kalimantan Selatan.








