Kemarau Panjang, Lahan Perkebunan di Lok Cantung Terbakar, Warga Serta Pemdes Berjibaku Cegah Api Meluas

Bagikan

Damkarnews.com, BANJAR – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali membayangi Kabupaten Banjar. Di tengah musim kemarau yang telah berlangsung hampir tiga bulan, lahan perkebunan masyarakat di Batu Kumarau RT 03, Desa Lok Cantung, Kecamatan Simpang Empat, terbakar, Rabu (2/9/2026).

Kondisi lahan yang kering membuat api dengan cepat membakar semak dan rerumputan. Pemerintah Desa Lok Cantung bersama masyarakat pun turun langsung ke lokasi untuk berupaya mengendalikan kobaran api agar tidak meluas dan mengancam lahan maupun permukiman warga.

Namun, perjuangan tersebut tidak mudah. Keterbatasan peralatan pemadaman menjadi salah satu kendala yang harus dihadapi warga di lapangan. Dengan sarana seadanya, masyarakat secara bergotong royong berusaha menjinakkan api dan mencegah kobaran merambat ke wilayah lainnya.

Pambakal Desa Lok Cantung, Suryadi, mengatakan begitu menerima informasi adanya kebakaran, pihak desa bersama masyarakat langsung bergerak menuju lokasi.

“Begitu mendapat informasi, kami bersama masyarakat langsung turun ke lokasi. Kami berusaha memadamkan api dengan peralatan yang ada, meskipun memang masih sangat terbatas,” ujar Suryadi.

Menurutnya, kondisi kemarau yang sudah berlangsung cukup lama membuat masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan. Lahan yang kering menjadi sangat mudah terbakar, sementara api dapat dengan cepat menjalar apabila tidak segera ditangani.

“Kemarau ini sudah hampir kurang lebih tiga bulan. Kondisi lahan sangat kering, sehingga kalau ada api sedikit saja bisa cepat membesar,” katanya.

Suryadi mengapresiasi kepedulian masyarakat yang secara sukarela ikut turun membantu proses pemadaman. Warga bahkan harus bergantian berada di lokasi untuk memastikan api tidak kembali menyala dan merambat ke area lain.

Baginya, kebersamaan masyarakat menjadi kekuatan penting dalam menghadapi ancaman karhutla, terutama ketika sarana pemadaman yang dimiliki masih terbatas.

“Kami berharap ada perhatian dan dukungan, khususnya terkait peralatan pemadaman. Karena ketika terjadi kebakaran seperti ini, kemampuan kami di desa sangat terbatas. Padahal masyarakat juga punya kepedulian dan mau turun langsung membantu,” ungkapnya.

Ancaman karhutla sendiri menjadi perhatian serius karena dampaknya tidak hanya merusak lahan dan lingkungan, tetapi juga berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat apabila asap menyebar ke kawasan permukiman.

Suryadi mengimbau masyarakat untuk tidak lengah selama musim kemarau. Warga diminta menghindari aktivitas yang dapat memicu kebakaran serta segera melaporkan apabila menemukan titik api maupun kepulan asap.

“Yang paling penting adalah pencegahan. Kalau ada melihat api atau asap, segera laporkan supaya bisa ditangani sebelum membesar,” tuturnya.

Peristiwa di Batu Kumarau menjadi gambaran nyata bagaimana masyarakat di tingkat desa ikut berada di garis depan menghadapi ancaman karhutla. Dengan peralatan yang terbatas, mereka tetap memilih turun tangan, saling membantu dan bergotong royong demi menjaga lingkungan serta keselamatan warga.

Di tengah kemarau yang berkepanjangan, kewaspadaan dan kepedulian bersama menjadi benteng penting agar api tidak berubah menjadi bencana yang lebih besar bagi Kabupaten Banjar.

Author: Damkarnews
Damkarnews