Damkarnews.com, BANJAR – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kabupaten Banjar terus memperkuat pelayanan kedaruratan sekaligus meningkatkan upaya pencegahan kebakaran di tengah masyarakat.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, Bidang Pemadaman, Penyelamatan dan Sarana Prasarana (Sarpras) DPKP Banjar mencatat beragam penanganan, mulai dari evakuasi banjir, kecelakaan lalu lintas, penyelamatan korban tenggelam, evakuasi satwa liar hingga penanganan kebakaran dan musibah lainnya.
Pada Januari 2026, petugas melakukan evakuasi warga terdampak banjir di tiga kecamatan akibat luapan sungai. Di bulan yang sama, DPKP juga menangani 17 kecelakaan lalu lintas, termasuk mengevakuasi korban dan membersihkan ceceran oli di jalan guna mencegah terjadinya kecelakaan susulan.
Memasuki Februari, petugas menangani dua kasus orang tenggelam melalui operasi penyelamatan air atau water rescue di Sungai Martapura dan kawasan Rawa Gambut. Selain itu, sebanyak 12 kecelakaan lalu lintas berhasil direspons dengan waktu tanggap di bawah 10 menit.
Aktivitas penyelamatan meningkat pada Maret. DPKP menerima 83 laporan warga terkait ular yang masuk ke rumah, dengan jenis kobra dan sanca menjadi satwa yang paling banyak ditemukan. Pada periode yang sama, petugas menangani 14 kecelakaan lalu lintas.
Tren gangguan satwa liar masih tinggi pada April dengan 99 laporan evakuasi ular dari permukiman warga. Jumlah tersebut kemudian tercatat sebanyak 90 laporan pada Mei.

Pada Mei pula, DPKP mulai mencatat peningkatan kejadian kebakaran dengan delapan kasus yang melanda rumah warga maupun lahan.
Memasuki Juni, laporan evakuasi ular turun menjadi 61 kasus seiring perubahan cuaca memasuki musim kemarau. Namun, kondisi berbeda terjadi pada kejadian kebakaran yang justru meningkat menjadi 14 kasus.
Tren kebakaran berlanjut pada Juli dengan 12 kejadian. Sebagian besar kasus tersebut diduga dipicu korsleting atau arus pendek listrik.
Sementara hingga Agustus 2026, DPKP telah menangani tiga kejadian kebakaran skala besar. Selain itu, personel juga dikerahkan untuk menangani 30 kejadian penyelamatan non-kebakaran, termasuk musibah rumah roboh di wilayah Gambut.
Kepala DPKP Kabupaten Banjar, Agus Siswanto, mengatakan rangkaian penanganan tersebut menjadi bagian dari komitmen pihaknya untuk memastikan masyarakat mendapatkan respons cepat ketika menghadapi kondisi darurat.
“Pelayanan pemadaman dan penyelamatan bukan hanya bagaimana kita memadamkan api, tetapi juga bagaimana memberikan respons cepat terhadap berbagai kondisi darurat yang dihadapi masyarakat,” ujar Agus, saat ditemui usai peringatan HUT RI ke 81, Senin (17/8/2026).
Menurutnya, peningkatan kapasitas personel, kesiapsiagaan peralatan serta keterlibatan masyarakat menjadi faktor penting dalam memperkuat sistem penanggulangan bencana dan kebakaran di Kabupaten Banjar.
Selain mengandalkan respons ketika kejadian berlangsung, DPKP Banjar juga terus memperkuat strategi pencegahan. Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, berbagai program edukasi dan pemberdayaan masyarakat digulirkan dengan melibatkan pemerintah desa, relawan, tokoh masyarakat hingga pengelola fasilitas publik.
Semangat yang diusung yakni “Mencegah Lebih Baik daripada Memadamkan: Mengabdi untuk Banjar yang Aman dan Tangguh Kebakaran.”
Salah satu program utama adalah pembentukan dan pembinaan Relawan Pemadam Kebakaran (REDKAR). Hingga Agustus 2026, pembinaan telah dilaksanakan di 20 desa dengan melibatkan sekitar 500 relawan.
Agus menjelaskan, REDKAR diharapkan menjadi garda terdepan dalam membangun kesiapsiagaan masyarakat di tingkat desa.
“Relawan di desa sangat penting karena mereka berada paling dekat dengan masyarakat. Dengan pembinaan yang dilakukan, kita berharap mereka mampu membantu edukasi, melakukan langkah awal dan berkoordinasi ketika terjadi kebakaran,” katanya.
Tak hanya REDKAR, DPKP juga menjalankan program Keluarga Tanggap Kebakaran di satu desa dan satu kelurahan dengan total 190 peserta.
Program tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai potensi bahaya kebakaran yang dapat muncul dari lingkungan rumah, sekaligus membekali warga dengan pengetahuan mengenai tindakan awal saat menghadapi keadaan darurat.
Pemberdayaan masyarakat dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran juga dilakukan di lima desa dengan melibatkan 375 peserta. Materi yang diberikan tidak hanya mengenai kebakaran, tetapi juga penanganan kebocoran gas agar masyarakat mampu mengambil tindakan awal secara tepat dan aman.
Upaya pencegahan juga diperkuat melalui sosialisasi peraturan perundang-undangan terkait pencegahan, penanggulangan dan pemadaman kebakaran.
Sepanjang Januari hingga Agustus 2026, kegiatan tersebut dilaksanakan di enam desa dengan menyasar masyarakat dan tokoh desa. Sosialisasi diharapkan dapat meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya norma keselamatan serta pemahaman terhadap aturan yang berkaitan dengan keselamatan lingkungan.
Di sisi lain, DPKP Banjar juga melakukan inspeksi sistem alat proteksi kebakaran pada sejumlah fasilitas dan bangunan di wilayah Kabupaten Banjar.
Pemeriksaan dilakukan untuk memastikan sarana proteksi kebakaran dan aspek keselamatan bangunan berfungsi sebagaimana mestinya. Sejumlah fasilitas publik menjadi sasaran inspeksi, antara lain fasilitas kesehatan, perbankan, lembaga pemasyarakatan, penginapan dan fasilitas pemerintahan.

Agus menegaskan, kesiapan sistem proteksi kebakaran pada bangunan merupakan bagian penting dalam upaya mengurangi risiko serta dampak ketika kebakaran terjadi.
“Pencegahan harus dimulai sebelum kebakaran terjadi. Karena itu, edukasi masyarakat, penguatan relawan dan pemeriksaan sistem proteksi bangunan menjadi satu kesatuan dalam membangun keselamatan,” tegasnya.
Jika dirangkum, selama Januari hingga Agustus 2026, program pencegahan DPKP Banjar mencakup pembinaan REDKAR di 20 desa dengan sekitar 500 relawan, Keluarga Tanggap Kebakaran di satu desa dan satu kelurahan dengan 190 peserta, pemberdayaan masyarakat di lima desa dengan 375 peserta, serta sosialisasi regulasi kebakaran di enam desa.
Rangkaian kegiatan tersebut menunjukkan bahwa penanggulangan kebakaran tidak berhenti pada tindakan ketika api telah membesar. Pencegahan menjadi fondasi penting untuk membangun masyarakat yang lebih siap, tanggap dan memahami risiko kebakaran sejak dini.
Melalui penguatan relawan, edukasi keluarga, pemberdayaan masyarakat, sosialisasi regulasi hingga inspeksi bangunan, DPKP Banjar berupaya membangun sistem keselamatan yang dimulai dari lingkungan masyarakat.
Semangatnya pun jelas: mencegah hari ini untuk keselamatan selamanya, menuju Kabupaten Banjar yang aman, tangguh dan semakin siap menghadapi ancaman kebakaran.





