Target 55 Terlampaui, Kodim Banjar Rampungkan 59 Koperasi Merah Putih

Bagikan

Damkarnews.com, BANJARBARU – Pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) di wilayah Kabupaten Banjar dan Kota Banjarbaru terus dikebut. Hingga pertengahan Agustus 2026, sebanyak 59 titik koperasi telah rampung dibangun dari 64 lahan yang dinyatakan siap.

Capaian tersebut disampaikan Komandan Kodim (Dandim) 1006/Banjar Letkol Inf. Bambang Prasetyo Prabujaya saat silaturahmi dan diskusi bersama insan pers di Banjarbaru, Kamis (13/8/2026) sore.

Menurut Bambang, secara keseluruhan terdapat potensi pengembangan KDMP hingga 310 titik di wilayah hukum Kodim 1006/Banjar. Namun, dari jumlah tersebut, baru 64 titik yang lahannya siap untuk pembangunan.

Dari 64 titik itu, 59 koperasi telah selesai dibangun. Capaian tersebut bahkan melampaui target awal Kodim 1006/Banjar yang ditetapkan sebanyak 55 titik.

“Secara keseluruhan potensi target kita ada 310 titik, namun lahan yang siap hingga saat ini ada 64 titik. Dari jumlah tersebut, alhamdulillah 59 titik sudah selesai dibangun. Ini pencapaian yang bagus karena melampaui target awal Kodim sebesar 55 titik,” ujar Bambang.

Bambang menjelaskan, pembangunan KDMP tidak sekadar menghadirkan bangunan koperasi di desa. Program tersebut diarahkan untuk memangkas rantai pasok kebutuhan pokok, sehingga harga barang yang diterima masyarakat dapat lebih terjangkau.

Menurutnya, panjangnya rantai distribusi menjadi salah satu faktor yang membuat harga sejumlah kebutuhan pokok di Kalimantan relatif tinggi. Melalui KDMP, distribusi diharapkan bisa lebih pendek, dari produsen utama langsung menuju koperasi desa.

Komoditas seperti beras, gula, minyak goreng hingga LPG nantinya diharapkan dapat disalurkan dengan harga yang lebih terkendali.

“Tujuan pemerintah adalah memotong rantai pasok agar lebih pendek. Kita ingin masyarakat kelas bawah, khususnya di daerah terpencil seperti Sungai Pinang, Aranio, dan Pengaron, mendapatkan harga barang yang wajar dan pantas,” jelasnya.

Ia juga memastikan keberadaan KDMP tidak dimaksudkan untuk mematikan warung kelontong milik masyarakat.

Sebaliknya, koperasi diharapkan dapat menjadi pemasok bagi warung-warung lokal, sehingga pelaku usaha kecil tetap bisa berjualan dengan memperoleh barang dagangan pada harga modal yang lebih kompetitif.

Percepatan pembangunan KDMP di lapangan bukan tanpa tantangan. Kodim 1006/Banjar harus menghadapi kondisi geografis sejumlah wilayah yang sulit dijangkau.

Distribusi material ke daerah pelosok terkendala akses jalan, keterbatasan tenaga tukang, hingga kondisi lahan rawa dan kawasan hutan lindung.

Bambang juga meluruskan informasi mengenai status lahan pembangunan KDMP. Ia menegaskan tidak ada pengambilalihan atau pencaplokan tanah milik pribadi maupun swasta.

Pembangunan memanfaatkan aset pemerintah daerah melalui mekanisme pinjam pakai, bukan pengalihan kepemilikan. Sementara terkait biaya sewa, mekanismenya mengikuti regulasi Kementerian Keuangan dengan nilai seminimal mungkin, bahkan dapat mencapai Rp0, sehingga tidak membebani operasional koperasi.

Khusus wilayah dengan karakteristik lahan rawa, pemerintah pusat juga tengah menyiapkan Detail Engineering Design (DED) untuk mendukung pembangunan, termasuk di kawasan Gambut dan Aluh-Aluh.

Dari 59 koperasi yang telah selesai dibangun, sebanyak 51 titik berada di Kabupaten Banjar dan 8 titik di Kota Banjarbaru.

Saat ini, seluruhnya memasuki tahap pemenuhan sarana pendukung. Berbagai perlengkapan, mulai dari kendaraan operasional, sepeda motor roda tiga, pendingin ruangan hingga perangkat kasir digital, dikirim secara bertahap dari Pulau Jawa.

Untuk tahap awal operasional, pengelolaan koperasi akan ditangani manajer profesional yang ditunjuk selama masa transisi.

Setelah sistem pengelolaan dan pelayanan berjalan baik, pengelolaan secara bertahap akan diserahkan kepada masyarakat desa.

“Untuk mengoperasikan sistem kasir digital dan manajemen ritel butuh pelatihan. Begitu sistemnya running dengan bagus, baru kita serahkan ke desa secara bertahap,” kata Bambang.

Ia memperkirakan sejumlah titik yang sarana pendukungnya telah lengkap mulai beroperasi dalam 1–2 bulan ke depan.

Tak berhenti pada sektor perdagangan kebutuhan pokok, KDMP juga diproyeksikan berkembang menjadi pusat layanan masyarakat. Ke depan, koperasi ini dirancang dapat mengintegrasikan layanan kesehatan melalui penyediaan gerai apotek hingga klinik desa, khususnya di wilayah yang masih minim akses fasilitas kesehatan.

Dengan demikian, KDMP diharapkan tidak hanya menjadi pusat aktivitas ekonomi desa, tetapi juga menjadi bagian dari upaya memperkuat akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok dan layanan dasar.

Author: Damkarnews
Damkarnews