Damkarnews.com, BANJAR – Upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat tidak selalu harus dimulai dari ruang-ruang formal. Di Desa Bi’ih, Kecamatan Karang Intan, Kabupaten Banjar, mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat, Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Lambung Mangkurat (ULM) memilih duduk bersama warga untuk mendengarkan, berdiskusi, sekaligus mencari solusi atas berbagai persoalan kesehatan di desa.
Suasana kekeluargaan terasa dalam kegiatan Musyawarah Masyarakat Desa (MMD) yang digelar Senin (10/8/2026) di ruang Perpustakaan “Nafi’i” Desa Bi’ih.
Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program Pengalaman Belajar Lapangan (PBL) Angkatan 2024. Selain mahasiswa, MMD turut dihadiri jajaran pemerintah desa, tokoh masyarakat, serta perwakilan warga.
Tiga kelompok mahasiswa PBL ULM, yakni Kelompok 7, Kelompok 15, dan Kelompok 24, berkolaborasi memaparkan hasil pengamatan dan temuan mereka selama berada di tengah masyarakat.
Ketiga kelompok tersebut masing-masing didampingi dosen pembimbing lapangan, yakni Kelompok 7 dengan pembimbing dr. Iskandar, S.Ked., Sp.A., M.Kes., Kelompok 15 didampingi Ihya Hazairin Noor, S.KM., M.P.H., serta Kelompok 24 didampingi Nur Laily, S.KM., M.Kes.
Kegiatan diawali dengan pemaparan hasil temuan lapangan oleh perwakilan mahasiswa. Dengan menggunakan media presentasi, mahasiswa menyampaikan berbagai persoalan kesehatan yang mereka temukan sekaligus membuka ruang bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk memberikan tanggapan.

Tidak ada jarak yang terasa dalam pertemuan tersebut. Para peserta duduk bersama di atas karpet, bertukar pandangan dan pengalaman mengenai kondisi kesehatan masyarakat Desa Bi’ih.
Bagi mahasiswa, forum tersebut bukan sekadar menyampaikan hasil observasi. Lebih dari itu, MMD menjadi ruang untuk mendengarkan langsung pengalaman warga dan menggali solusi yang sesuai dengan kondisi serta kebutuhan masyarakat setempat.
Pambakal Desa Bi’ih, Yusuf Halidi, menyambut baik kehadiran mahasiswa PBL ULM yang telah turun langsung ke tengah masyarakat.
Menurutnya, kegiatan tersebut menjadi momentum penting bagi pemerintah desa dan masyarakat untuk mengetahui lebih jelas persoalan kesehatan yang ada di Desa Bi’ih sekaligus mencari langkah penyelesaian secara bersama-sama.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan mahasiswa PBL ULM yang telah turun langsung ke Desa Bi’ih. Mereka tidak hanya melakukan pengamatan, tetapi juga mengajak pemerintah desa dan masyarakat berdiskusi mengenai kondisi serta permasalahan kesehatan yang ada di lingkungan kita,” ujar Yusuf Halidi.

Ia berharap hasil temuan mahasiswa tidak berhenti sebagai laporan maupun pembahasan dalam forum MMD.
Menurutnya, berbagai persoalan yang telah diidentifikasi perlu ditindaklanjuti melalui program yang benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Kami berharap apa yang sudah disampaikan dan dirumuskan dalam kegiatan ini bisa menjadi bahan bagi pemerintah desa untuk menentukan langkah selanjutnya. Tentunya kami juga terbuka untuk bekerja sama dengan pihak ULM maupun pihak terkait lainnya dalam meningkatkan kesehatan masyarakat Desa Bi’ih,” katanya.
Yusuf menilai persoalan kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja. Dibutuhkan kolaborasi antara pemerintah desa, masyarakat, tenaga kesehatan, dan kalangan akademisi.
Menurutnya, kolaborasi tersebut penting untuk membangun kesadaran masyarakat mengenai pola hidup sehat sekaligus mendorong upaya pencegahan berbagai persoalan kesehatan sejak dini.
“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat ikut terlibat dan memiliki kesadaran bahwa menjaga kesehatan merupakan tanggung jawab bersama. Mudah-mudahan kegiatan seperti ini dapat terus berlanjut dan memberikan dampak positif bagi masyarakat Desa Bi’ih,” pungkasnya.
Melalui MMD ini, mahasiswa PBL ULM diharapkan tidak hanya memperoleh pengalaman belajar dari masyarakat, tetapi juga mampu memberikan kontribusi nyata bagi desa.
Pertemuan tersebut menjadi gambaran bahwa membangun masyarakat yang sehat membutuhkan kepedulian, komunikasi dan kemauan untuk berjalan bersama. Dari ruang sederhana di Perpustakaan “Nafi’i”, harapan untuk menghadirkan Desa Bi’ih yang lebih sehat pun mulai dirumuskan bersama.



