Damkarnews.com, BANJAR – Komisi IV DPRD Kabupaten Banjar mendorong RSUD Ratu Zalecha Martapura terus berbenah guna meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Salah satu perhatian utama yang mengemuka dalam Rapat Dengar Pendapat (RDP) antara Komisi IV DPRD Kabupaten Banjar dan manajemen RSUD Ratu Zalecha adalah persoalan antrean pasien yang masih kerap dikeluhkan warga.
RDP yang digelar pada Jumat (5/6/2026) itu dipimpin langsung Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Banjar Hj. Anna Rusiana, didampingi Wakil Ketua Sayyid Abu Bakar Bahasyim, serta anggota H. Ahmad Fauzan, Kursani, dan Zainal Abidin.
Dalam kesempatan tersebut, anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Banjar, Kursani, memberikan apresiasi terhadap peningkatan kualitas pelayanan RSUD Ratu Zalecha yang dinilainya mengalami perkembangan signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
“Pelayanan rumah sakit sudah luar biasa meningkat. Berbagai persoalan yang dulu sering muncul, khususnya terkait pelayanan sosial dan BPJS Kesehatan, kini sudah jauh lebih baik,” ujarnya.
Meski demikian, Kursani tetap memberikan sejumlah catatan, terutama terkait kondisi fisik dan estetika bangunan rumah sakit yang dinilai perlu mendapat perhatian.
“Untuk rumah sakit, saya berharap ada penyegaran warna cat agar terlihat lebih segar dan representatif. Kami di Badan Anggaran (Banggar) siap membantu mengawal anggaran untuk hal ini,” katanya.
Menurutnya, peningkatan kualitas pelayanan tidak hanya menyangkut aspek medis, tetapi juga kenyamanan dan tampilan fasilitas kesehatan yang menjadi wajah pelayanan publik.
Sementara itu, Direktur RSUD Ratu Zalecha Martapura, Arief Rachman, mengungkapkan bahwa pihaknya saat ini tengah fokus memperkuat sistem manajemen antrean melalui optimalisasi pendaftaran online berbasis WhatsApp.

Ia menyebutkan, penggunaan layanan pendaftaran online masih berada di angka sekitar 40 persen. Sebagian besar pasien masih memilih datang langsung ke rumah sakit untuk mendaftar, yang akhirnya memicu penumpukan antrean.
“Banyak yang mendaftar ke rumah sakit masih on-site, datang baru mendaftar. Sehingga hal tersebut menyebabkan panjangnya antrean,” jelas Arief.
Menurutnya, salah satu penyebab munculnya keluhan di ruang pelayanan adalah perbedaan pemahaman antara pasien yang mendaftar secara online dengan pasien yang datang langsung.
Pendaftaran online sebenarnya sudah dapat dilakukan sejak H-1 sebelum jadwal pemeriksaan. Namun, tidak sedikit pasien yang datang pagi hari dengan harapan mendapatkan pelayanan lebih cepat.
“Kadang kami menemukan keluhan ketika di pelayanan karena mereka merasa datang pagi dan berharap dilayani paling cepat. Ternyata yang dilayani adalah pasien-pasien online karena mereka sudah mendaftar dari H-1,” ungkapnya.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, RSUD Ratu Zalecha berencana menerapkan sistem pembagian jam kedatangan berdasarkan nomor antrean apabila penggunaan pendaftaran online sudah mencapai 60 hingga 70 persen.
Dalam skema yang sedang disiapkan, pasien dengan nomor antrean 1 hingga 20 akan dijadwalkan hadir pukul 08.00–09.00 Wita, sedangkan antrean nomor 21 hingga 40 akan datang pada pukul 09.00–10.00 Wita.
“Jadi tidak ada lagi ketidakjelasan pasien datang jam 7 pagi, ternyata baru dilayani jam 11 siang. Tapi sistem ini baru bisa berjalan efektif jika masyarakat beralih menggunakan pendaftaran online. Kalau masih on-site, datang di tempat pasti akan menunggu,” tambahnya.
RSUD Ratu Zalecha juga telah menyiapkan solusi bagi pasien kronis, seperti penderita hipertensi dan diabetes yang harus melakukan kontrol rutin setiap bulan.
Usai menjalani pemeriksaan, pasien akan langsung dibantu petugas untuk melakukan pendaftaran online pada jadwal kontrol berikutnya. Dengan demikian, pasien cukup menunggu notifikasi melalui SMS atau WhatsApp sebagai pengingat waktu kedatangan.
“Bagi pasien rutin, setelah kedatangan nanti akan kami bantu daftarkan online langsung. Jadi bulan depan mereka tinggal menunggu SMS atau pesan WhatsApp pengingat untuk hadir sesuai jam yang ditentukan,” tutur Arief.
Selain itu, pihak rumah sakit juga mengakui masih terdapat kendala di lapangan, mulai dari keterbatasan jaringan internet di sejumlah wilayah hingga rendahnya literasi digital sebagian masyarakat, terutama kelompok lanjut usia.
Karena itu, RSUD Ratu Zalecha berharap adanya dukungan berbagai pihak, termasuk Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (PMD) serta Puskesmas di bawah Dinas Kesehatan, untuk ikut mengedukasi masyarakat mengenai manfaat pendaftaran online.
Saat ini, kapasitas pelayanan setiap poliklinik dibatasi sesuai kuota guna menjaga kualitas layanan. Untuk Poli Penyakit Dalam yang terdiri dari dua poli, masing-masing melayani sekitar 50 pasien per hari. Secara keseluruhan, RSUD Ratu Zalecha menangani sekitar 300 hingga 500 pasien setiap harinya di seluruh poliklinik.
Melalui optimalisasi sistem pendaftaran online, manajemen berharap antrean panjang dapat berkurang, ruang tunggu menjadi lebih nyaman, serta masyarakat memperoleh kepastian waktu pelayanan tanpa harus menunggu berjam-jam di rumah sakit.


